Friday, July 08, 2005

Tentang Tiara

Bab 2

Hartono Beny Hidayat, www.planetmusic.4t.com


Menurut shahibul hikayat, Tersebutlah seorang raja dari negeri timur yang berkuasa dan termasyur bernama Nalendra , kekuasaannya terbentang laksana permadani yang menghampar dari ujung bumi yang satu, keujung bumi yang lainnya. Ia begitu disegani rakyat dan para musuhnya, kata-katanya menjadi sabda, perintahnya adalah titah yang tak seorangpun berani menentang.



Ditangan kebesarannya Kerajaan Ansaria mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaannya melebar sampai Semenanjung Malaka, Kamboja dan kepulauan pacific. Raja-raja yang telah ditaklukkannya diwajibkan mengirimkan berbagai upeti sebagai tanda bakti.



Raja Nalendra mempunyai seorang putri bernama Tiara, sebuah kerlip bintang yang paling bersinar pada masanya , kecantikan dan budi pekertinya tersebar dan tersiar hingga ke segala penjuru kerajaan arah mata angin.



Tak pernah hatinya diliputi kecemasan sedikitpun, seolah pintu-pintu langit tempat dimana ia bernaung, selalu mencukupi berbagai kebutuhannya- dengan memberi tetes air keberkahan , bagi beragam jenis warna bunga, yang hidup dan merekah dalam taman hatinya.



Wajahnya selalu berseri dan tak pernah terbersit dari pancaran wajahnya suatu bentuk kedukaan ataupun kemuraman hati. Ia selalu dalam kegembiraan, tak pernah ia menanyai hari esok ataupun yang kan terjadi setelahnya, seolah berbagai kebaikan serta rahmat dunia berada dalam genggamannya



Kelokan dua binar matanya , bersinar laksana mata kijang. Seakan mampu menghipnotis orang yang paling arif sekalipun -hingga menawan hatinya dalam jeruji keputusasaan, serta memabukkan dan menenggelamkannya dalam cawan-cawan anggur, yang berisi air harapan akan cinta dan anugerah.

Seandainya saja mata pena dipaksa untuk menuliskan keindahannya, tentu hal tersebut akan sia-sia , disaat jiwa hendak menulis perihal keindahan sejatinya , selalu saja mata-mata pena tersebut menjadi patah , dan disaat buah-buah kebijaksanaan hendak dipetik, guna mengisi pena dengan getahnya, selalu saja kertas-kertas tersebut terlebih dulu terbakar , seakan tak kuasa menahan beban amanah yang meski dipikulnya.



Walaupun berbagai kesenangan hidup telah dikecapnya, ternyata Sang Putri menyimpan suatu kegundahan hati, dalam tiap mimpi-mimpi malamnya ia sering berjumpa dengan sosok pemuda yang begitu mengganggu pikirannya. Dan ia bahkan mengigau menyebut-nyebut nama kekasih khayalnya itu disetiap waktu -disetiap saat.



Kelakuan ganjil tersebut terkadang membuat hati Raja menjadi gundah. Bagaimana mungkin seorang ayah akan tega membiarkan permata kesayangannya tertimpa suatu penyakit aneh..Karena hal itu Sang Raja menjaganya siang malam, memayungi dirinya dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus..



Didalam pengasuhan mawar tersebut, Raja Nalendra benar-benar mengistimewakan Tiara sebagai harta yang paling ia cintai, kasih sayangnya sekan tercurah hanya untuknya seorang serta menjaga layaknya Sphinx pada piramid.



Raja Nalendera telah lama mendambakan mempunyai anak kembali, seorang anak lelaki yang kelak akan mengangkat tongkat kebesaran dan mewariskan kejayaannya dengan semerbak keharuman mawar, namun keinginannya tak pernah terwujud karena permaisurinya tak pernah lagi mengandung.



Pada suatu hari Raja Nalendra mengadakan suatu acara yang ditempatkan dibalirung istana , berbagai kalangan masyarakat berbaur menjadi satu, bersorak penuh kegembiraan dalam sebuah keceriaan malam, mereka diundang secara khusus untuk merayakan hari kelahiran rajanya yang telah memasuki usia 75 tahun, didalam keria-an acara tersebut berbagai lomba dan atraksi telah digelar, berbagai pundi-pundi kebaikan dibuka, malam itu menjadi malam yang penuh keberkahan tidak saja bagi kalangan amir tapi juga fakir.

Berbagai kebaikan di malam itu, seakan menjadi air yang menghidupi serta merahmati segala karunia yang telah dicurahkan Sang Khalik pada sang raja., atas pemberian kesehatan dan umur yang panjang kepadanya.



Didalam pesta itu digelar berbagai atraksi, tari-tarian , dan juga lomba bersyair, dikarenakan ikut dalam perlombaan, Satria berada diruangan utama. Dimana ruangan itu dikelilingi meja-meja perjamuan, laksana sebuah taman firdaus, beragam hidangan lezat, hiasan-hiasan dan bunga-bunga terbaik yang ada diseluruh negeri tersaji disana .



Berbagai kenikmatan dunia terpancar dari tangan emasnya, sebuah tempat dimana terdapat Raja dan kerabat serta para bangsawan bercengkrama bernaung dibawah langit kejayaan, seakan hendak memperlihatkan kebesaran serta kemuliannya masing-masing..



Setelah memberikan kata sambutan, Raja Nalendra secara resmi membuka acara tersebut. Digelarlah berbagai atraksi kesenian tradisional yang dilakukan para seniman istana. Ketika sang putri raja sedang menari dengan pangeran dari kerajaan lain, secara tak sengaja kaki sang putri menyentuh meja yang diduduki seorang pemuda, sehingga menjatuhkan gelas kepangkuannya, yang belakangan kita ketahui bernama Satria.



Dalam kejadian serba cepat seperti itu, si pemuda dengan khilaf secara tak sengaja mengeluarkan desis bernada hardikan; apalah daya desis telah keluar dan tak mungkin dapat ditarik kembali, tak pantas bagi seorang rakyat biasa mengeluarkan desis sekecil apapun juga, terlebih lagi kepada seorang yang begitu dihormati, maka si pemuda buru-buru meminta maaf atas segala kekhilafannya, alih-alih sang pemuda akan marah, ternyata ia terpana kepada kecantikan gadis itu.



Sambil tersenyum ramah pada Satria, Sang Putri menghaturkan permohonan maaf secara tulus padanya. Tertegun oleh kerendahan hati dan keramahan Sang Putri, Satria bersyair dalam hati :

“Tak jadi masalah Tuan Putri menjatuhkan air kepangkuanku,

Padahal lomba belum saja digelar,

Tak mengapa bila harus menjadi seorang pecundang,

Jika senyum yang diberikannya padaku,

telah menjadikanku sebagai seorang pemenang!”

Pada saat itu juga, keindahan atap istana beserta indah kerlip lampu-lampu kristal, telah menandakan sebuah takdir -bagi lahirnya seorang penyair, yang kelak akan mewariskan bait-bait abadi bagi generasi sesudahnya .



Banyak wanita yang memberi ilham padanya untuk menulis kasidah, bagai kumbang yang mengelilingi bunga-bunga, tetapi Sang penyair hanya tertarik pada salah seorang diantara mereka, dialah Tiara anak dari Baginda Raja.



Saat wajah rindu akan damai, seolah kedamaian itu harus ditebus oleh peperangan, wajah yang terluka akan dibasuh serta disembuhkan -oleh kain dan airmata kesedihan.



Begitu juga disaat sang pemuda datang dengan membawa hati yang tandus , tiba-tiba saja hadir seorang yang memiliki kecantikan bidadari, basahi dahaga kerongkongan jiwanya dengan membawa sejumput senyum menawan, yang kelak akan menyegarkan segala resah hatinya.



Ketakjuban itu terus berkembang hingga menjadi sebuah taman jiwa yang penuh terisi oleh bunga-bunga cinta. Maka dari itu, keluarlah syair-syair indah dari bibirnya seakan sudah menjadi detak jatung penyair kita.

Ia takkan pernah berhenti bersyair kecuali jika sang kekasih menghendaki atau jantungnya sudah tidak berdetak untuk selamanya.



Duhai Pesona para dewi,

disaat aku melihat engkau menari,

Gerak gemulai tubuhmu membuat jantungku seolah berhenti berdetak,

Andai saat itu aku yang menari denganmu,

Pasti ku kan binasa, melihat pencaran mata yang begitu indah itu,



Duhai Dewi Cintaku,

Saat kau melemparkan sebuah senyuman padaku, hatiku yang beku kini mencair

Disaat kita saling menatap,

maka sabda jiwa kita tak mampu menyembunyikan rasa dihati.

Kebisuan kita adalah cahaya keindahan yang memancar dari dalam diri,

lebih mulia dari suara-suara yang ditutur alam,

Lebih indah bunyi-bunyian yang terucap dari para malaikat,



Duhai dara jelita,

keindahan diatas para Putri-putri Raja,

Apakah jiwamu dan jiwaku saling bertemu dihari pertemuan itu ?!



Setelah pesta usai, keterpesonaan Satria kepada sang putri membuat dirinya lupa menanyai nama seorang gadis yang telah memikat hatinya itu.



Beberapa hari kemudian sipemuda kembali menuju keistana, kebetulan diistana sedang ada pengangkatan prajurit baru, maka kesempatan itu tidak disia-siakan olehnya, saat berada di alun-alun istana sipemuda berjumpa dengan beberapa dayang-dayang istana , sambil menyelesaikan urusannya, ia menyelidiki dan mencari tahu siapa nama gadis yang berada dalam pesta kemarin itu yang kerling matanya begitu mempesona, senyumannya indah tak terperi, atau langgam bicaranya yang menawan telah membuat hatinya terbakar oleh bara api bernama cinta .



Ternyata usaha tersebut tidaklah sia-sia, salah satu dayang istana mengabarkan keberadaan si pemuda kepada sang putri, “ kekaguman atas diri Tuan Putri telah melahirkan banyak bait-bait syair cantik dan kebanyakan syair-syair itu dinisbatkan kepada Anda!” , begitu tuturnya.



Mata merupakan jendelanya hati, segala sesuatu yang mengitari pikiran sang pecinta mendorongnya untuk menemukan cintanya, walaupun dengannya ia harus mereguk racun, niscaya racun itu tak berdaya oleh madu cinta yang mengalir dalam darahnya .

Tak bisa pungkiri bahwa Sang Putri juga merasakan getaran yang sama, takkala ia mendapatkan cerita perihal kekasihnya itu. dawai-dawai kecapi asmara serasa mengalun merdu diseputar dinding hatinya .



Ketika cinta hadir dan mengetuk pintu hati, maka hati tak akan lagi bisa membedakan antara kaya atau miskin, siburuk rupa atau sibaik rupa. Dan sang putripun tak dapat berpaling untuk tidak mencintainya.

Tiara sang putri raja, melihat sesuatu yang indah memancar dari diri si pemuda. Begitu juga sebaliknya dengan sipemuda, ia memandang Sang Putri sebagai sebongkah mutiara nan sempurna, yang memancarkan cahaya kecantikan dari dalam diri.



Gayung bersambut , tidak bertepuk sebelah tangan. Setiap kali dua jiwa itu bersua , kadar cinta di dada masing-masing semakin bertambah besar. Dalam cinta dan kerinduan, selalu bermula dari pandangan mata, kemudian senyum, lalu sapa, bicara lantas berjanji untuk bertemu, terjadi perjumpaan atau bahkan perpisahan.

Setelah perjumpaan sekejap itu, hubungan keduanya berlangsung melalui surat ataupun saling kirim mengirim utusan.



Syahdan Sang Putri Raja sedang dilanda demam asmara , pikirannya takkan pergi jauh dari sang terkasih, walau banyak sekali duri yang menghalang ataupun cemoohan yang terlontar, ia tetap saja tak peduli ; dan semakin menyakini -bahwa getaran yang bersemayam dalam hatinya merupakan sebuah getaran cinta yang telah lama terpatri dalam hati, takkan pernah ia merasa bersalah dan takkan penah mengenal kata salah.



Seseorang yang bijak sekalipun tentu bisa mengendalikan akal sehatnya , namun apalah daya jika sibijak diterpa penyakit cinta, tak ada obat mujarab yang dapat dengan mudahnya menyembuhkan penyakit ini selain kehadiran si pemberi penyakit



“Ternyata dialah !…ternyata dialah yang sering mampir disetiap mimpi-mimpi malamku!” gumam Tiara, Sang Putri Raja.



Begitulah bila cinta telah dibutakan oleh hasrat dan keinginan , ia akan lupa akan kebenaran yang mendasarinya, apalah daya tembok yang kokoh lagi tinggi ataupun kesiagaan para pengawalnya -semua kan jadi percuma, bila yang meski dijaga adalah sebuah hati.



Dalam suatu kesegaran pagi yang cerah, dengan berhias lengkung warna-warni pelangi, bunga-bunga merekahkan putik mahkota indahnya. Dipagi itu pintu-pintu langit hendak menganugrahkan hikmah, serta memperlihatkan tabir lain yang sempat terhalang bagi pengelihatannya, maka terbukalah secara perlahan berbagai selubung yang menutupi matahatinya, sehingga Tiara Sang Putri Raja merasakan sesuatu yang aneh -telah terjadi pada dirinya. Ia melihat dan menyaksikan dengan mata hatinya , bahwa kupu-kupu dan bunga saling berbicara , seolah mereka hendak menyampaikan dan menisbatkan bait-bait syair nan indah ini untuknya :



Aku adalah kupu-kupu ,

aku dan bunga adalah sepasang kekasih.

Angin kehidupan mempertemukan dan memisahkan kami.

Aku terbang dan aku datang dari atas singasana cintamu,

untuk menggabungkan sengat kasihku dengan putik indahmu, serta keindahan warnanya yang menyatu dengan keindahan sayap-sayap cintaku.



Menjelang segarnya pagi aku menghampiri kekasihku,

dan ia mendekapku dalam kelopak indahnya.

Disenja hari kutorehkan dan kubacakan syair-syair kerinduanku ,

lalu ia tersenyum , dan melambaikan kelopak jiwanya padaku....



Kupu-kupu bersayap yang oleh cinta tidak diberi kekuatan, tidak akan bisa terbang dari balik dedaunan untuk melihat keindahan dan keagungan cinta,

Dimana jiwaku dan jiwa kekasihku menyatu dalam setiap hembusan dan tarikan nafas keabadian...

Ketika angin menyandungkan bait-bait cinta ,

Ruh semesta yang mendengarnya akan tertunduk dalam bulir airmata bahagia...

Disaat angin bergolak, dan hati terluka...Kupu-kupu terbang susuri taman-taman hati, dilihatnya bunga-bunga merekahkan warni kemandulan jiwa...putik indahnya takkan pernah mendengar...ketika alam menyandungkan bait-bait kehidupan...

Kekasihku,.....

Aku ingin engkau mengenalku sebagai keindahan kupu-kupu yang pernah tertatih dalam kegelapan...Aku ingin engkau mengingatku sebagai makhluk yang pernah terkurung sepi dalam selubung kegetiran ....

Duhai, keindahan jiwa yang menghias taman hatiku,

Tak ada hari-hari yang lebih indah daripada hari-hari yang dihiasi oleh keindahan cinta...

Tak ada badai yang lebih menakutkan selain badai asmara..tetaplah dalam genggaman erat - kepakan syair keabadianku, dan

jadilah pengikut setia atas Singgasana keajaiban cintaku...



Dan kupu-kupu yang dicintai Sang Putri Raja bukanlah kupu-kupu biasa, walaupun ia berasal dari kalangan jelata , namun dia adalah sosok pemuda yang cakap menunggang kuda, hebat dalam memainkan pedang dan ahli membuat syair, konon apabila ia menyandungkan bait-bait syair, kehalusan dan kedalaman makna yang terkandung didalamnya amatlah menggetarkan jiwa, bahkan bagi jiwa sekeras batu sekalipun akan luluh lantak dibuatnya.



Dilain kesempatan, masih disebuah taman jiwa yang sama Sang Putri terlihat menghampiri kupu-kupu tersebut , serta meraih sayapnya kemudian ia berbicara padanya

”Wahai kupu cintaku !’, katanya “Dari sayap keindahan dunia manakah engkau berasal ?”. “Dapatkah kau padamkan nyala api yang menyala dalam hatiku kini ?”, “Haruskah aku memohon padamu untuk mengatakan padaku siapa namamu dan dari mana engkau berasal ?.” ….



“Lihatlah luka yang telah tergores dan teranga di hati ini, dapatkah kau biarkan keperihan ini terus berlangsung, sedang kau biarkan aku meluruh dalam dekapan sayap kebesaranmu ?”…Duhai, betapa malangnya jiwaku, dan ku yakin tak seorangpun mau tertimpa cinta seperti ini, kau telah membawa pergi hatiku , tanpa meninggalkan jejak sedikitpun perihal dirimu!”.



“Duhai kepakan sayap yang terus bergema dikehening ruang hatiku, maukah kau ceritakan padaku ihwal syair yang kau gubah untukku?!”…”Tahukah kau wahai kekasih hati !, bahwasanya bayang indahmu telah menggangu tidurku, merampas ketenangan malamku dengan menaburi duri cinta pada pembaringanku ?!”



“Ketahuilah bahwa kebebasanku kini, telah tertawan oleh keindahan bait-bait cintamu, maka sandingkanlah kedua jiwa itu; bila kau tak sudi menyatukannya sesegera mungkin, maka kembalikanlah jiwaku !…dan jangan biarkan terus jiwaku tersiksa dalam penantian - serta menunggu dalam keraguan ditiap detik ujung harapku ini !”



Tak beberapa lama kemudian kupu-kupu yang menghias serta bersemayam ditaman jiwa itu menjawab seruannya, lalu kupu-kupu yang ada digenggamannya itu berkata :

“Saat Sang Putri Raja berdiri ditepian senja, langit mengukir lembaran kisahku padanya, maka ia tersenyum, ia menangis , dan ia tertegun”.

“Duhai kelembutan jemari yang telah menggetarkan kebesaran sayap-sayap cintaku !” “Janganlah kau berburuk sangka, ijinkanlah aku barang sejenak mengagumi keindahan parasmu, maka ijinkan aku untuk memaknai keindahan dirimu dalam kepakan sayap-sayap kebijaksanaanku !”

“Dan janganlah mengira luka cinta yang kuterima akibat pesonamu, lebih ringan dari yang kau terima dariku.”…”Jiwakupun terpanah oleh panah cinta yang sama !”

Pertemuan-pertemuan dalam alam impian, ternyata belum juga bisa menjawab dan menyembuhkan penyakit akan cinta atau memadamkan gelora bara api cinta yang berkobar didalam hati.

Sang putri raja kembali kekamarnya dengan membawa penyakit bathin didalam tubuh, badannya semakin kurus beriring dengan berlalunya hari . Tak seorangpun tabib yantg mampu mengobati. Setiap hari ia mengigau menyebut-nyebut nama kekasihnya atau berbicara dengan bayang-bayang sang terkasih..

Perpisahan adalah ladang subur untuk menumbuhkan dan menyalakan api cinta. Tidaklah menjadi kendala bila kedua pecinta terpisahkan oleh jarak, dinding-dinding kokoh yang sengaja dibangun-pun akan sia-sia belaka, bila yang ingin dibatasi adalah sebuah jiwa.



Baginya, cinta sejati adalah singgasana peristirahatan akhir bagi kemurnian hati, dihadapannya-lah cinta menghamba , didalam erat genggamannya-lah kekuatan cinta memasrahkan diri.



Berkali-kali mereka berusaha untuk merajut benang-benang cinta kasih, tetapi apa lacur , untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, benih asmara dalam kedua jiwa itu akhirnya tercium juga oleh keluarga sang putri.



Kini kekasih yang dibangga-banggakannya telah dipingit dalam kamar kerajaan, ia tak dapat lagi keluar tanpa pengawalan teman atau orang yang dapat dipercaya.. Kalau terpaksa harus keluar, itupun bila ada keperluan yang amat mendesak.



Sang putri raja telah dipersiapkan untuk menjadi pewaris kerajaan, dalam pingitannya itu ia hanya diam seribu bahasa sembari merasakan pahitnya kesedihan.



Saat cinta menyapa jiwa pemuda dan putri raja , saat bunga-bunga cinta telah terpaut dilubuk hati keduanya, kini Tiara sang putri raja tidak dapat ditemuinya kembali sekalipun itu hanya sebuah pertemuan melalui surat-menyurat. Maka biarlah kumpulan lembaran jiwa itu; impian, imajinasi dan kenangan yang menyertainya , menjadi muara ilham bagi lahirnya bait-bait syair yang dinisbatkan padanya



Beriring dengan berjalannya waktu, hal tersebut tak berlangsung lama, secara sembunyi-sembunyi, pertemuan mereka menjadi semakin rutin, meski hanya memandang Tiara dari bawah balkon istana, sebuah pertemuan suci dilakukan dengan tetap menjaga diri, tak peduli langit sedang menghitam atau guntur sedang membahana, mereka tetap gigih, walau mara bahaya mengancam keduanya , seakan hal itu tak menyiutkan nyali dan menyurutkan niat baik kedua pecinta yang sedang dilanda badai asmara untuk saling bertemu.



Dalam kenekatan seperti itu, Sang Raja pernah menasehati putrinya:

“Wahai anak pelita bagi kebesaranku , engkaulah satu-satunya yang paling kucinta, permata yang paling berkilau dari seluruh negeri ..sampai kapankah engkau akan tersesat dalam kebeliaan masa mudamu ?… Mengapa engkau masih berhubungan dengan pemuda yang tak jelas keberadaan dan asal-usulnya?…Ketahuilah bahwasanya engkau adalah seorang putri Raja, banyak pangeran tampan yang mengantri laksana kumbang mendekati bunga untuk dapat mendapatkanmu, namun mengapa engkau terpedaya dan terbelenggu dalam jerat-jerat tipuan yang telah diciptakan olehnya?…Seseorang yang memperlihatkan manisnya cinta padamu, laksana kembang gula, padahal ia telah membuatnya dengan jemari hitam lagi berkuku tajam! ”



“Duhai Ayahandaku tercita” tuturnya, “ Janganlah engkau berkata seperti itu, tidakkah kau ketahui ,bahwa tak ada seorang gadispun yang ingin tertimpa kemalangan seperti ini, ……luka pada hatiku ini; bukan atas kehendakku- ia ada, namun karena kebesaran cinta itulah ia ada!”



Ketidaksukaan Sang Raja pada Satria berbuntut panjang, sebenarnya Satria lulus dalam pengangkatan prajurit baru, namun karena ketidaksenangannya itu, ia dinyatakan tidak lulus secara sepihak, musnahlah harapannya sebagai abdi negara yang ia citakan sejak kecil. Namun demikian Satria tak pernah berkecil hati ataupun berputus asa, ia tetap berusaha tersenyum walau hatinya merintih.



Cinta tak pernah berubah sepanjang masa . Cinta adalah getaran yang menembus kalbu. Cinta adalah panggilan jiwa yang memaksa jasad untuk mengikuti. Dan cinta adalah bara api yang berkobar didalam hati setiap kali melihat sang terkasih, atau mendengar namanya disebut.



Perputaran hari telah menengaskan bahwa setiap kali kedua jenis anak manusia dipisahkan, setiapkali rasa rindu untuk bertemu meenggelegak didalam jiwa, setiapkali itu pula akal menciptakan bentuk bentuk hubungan yang tak pernah terbayangkan.



Seorang pecinta yang tergila-gila tidak akan merasa cukup bila hanya menyandungkan bait syair pada sang terkasih, ia akan berusaha mendekati rumah kekasihnya itu berharap sebuah keajaiban mempertemukannya dengan si jantung hati.

Bukanlah seorang Satria, bila ia tak bersyair untuk menjawab segala keresahan hatinya, dan bukanlah seorang Tiara, bila ia tak pandai bersyair dan juga menterjemahkan syair-syair yang dinisbatkan padanya…



Duhai kekasih,

Disaat seorang pemuda dilanda cinta, Hal gila apapun pasti dilakukannya demi Sang tercinta,

Tembok yang tinggi sekalipun kan dipanjatnya, laut nan luaspun kan diarunginya,

Onak-duri itu dapat dengan mudah diatasinya, lain halnya bila bunga yang ia cintai dipagari - dinding-dinding kemuliaan dan kehormatan,

Ia akan mati dibalik tembok itu dengan menggenggam sebuah keyakinan kuat dalam hatinya,



Dalam kematiannya- ia menyakini bahwa; kelopak bunga yang ia lempar dari balik tembok itu,

sekalipun bunga-bunga itu tak ada yang memungutnya ,

suatu saat layunya akan menjadi benih harapan, serta obat kerinduan bagi sang terkasih,

Bunga-bunga harapan yang kelak menjadi pelipurnya dikala sedih,

menjadi teman sejatinya dikala hampa.

***

Hartono Beny Hidayat, www.planetmusic.4t.com

Friday, March 07, 2003

Cinta yang terpasung

Bab 3

Hartono Beny Hidayat, www.planetmusic.4t.com

Hubungan penyair dengan perempuan yang dikasihi ,bahkan sering pula membuahkan perselisihan dan pertengkaran dengan keluarga kekasihnya. Terluka akibat tertusuk panah beracun bisa dicari penawarnya, namun bila luka itu menanggung racun bernama aib hendak kemana obat dicari; sejak saat itu kedua pecinta tak lagi leluasa untuk saling bersua, banyak mata telah mengawasinya dan kini si gadis telah terkurung rapat dalam sangkar emasnya .


Cinta bukan lagi sesuatu yang dirahasiakan ,seorang penyair akan menyatakan cintanya pada dunia. Dalam ketulusan jiwa ia rela terluka ataupun berkalang tanah untuk membela kekasih hati. Orang-orang yang tak sengaja mendengarkan senandung rintihan hati sang penyair akan ikut menangis.bersama , seakan ikut menyelami palung kepedihan sang penyair yang cintanya terpasung dalam samudera keputusasaan.


Disaat kekuatan cinta telah memenjarakan hati, dan jarak telah memisahkan keduanya , ditempat kesunyian jiwa seperti itulah, akal dan perasaan yang berwujud bahasa hati; akan berbicara dengan hati lainnya.


Malam nan pekat boleh saja menyembunyikan pepohonan dan bunga ,

namun kegelapan tidak akan menyembunyikan dirinya dari jiwaku

Tiara boleh saja dikurung dalam sangkar emasnya,

Namun ku kan selalu menemani mimpi-mimpi dan keterjagaannya

ditiap pergantian malam

Diruang istana, Tiara- sang putri raja masih saja merenung , ia terus-menerus memikirkan hikmah dibalik semua perjumpaan serta mimpi-mimpinya, jemari kerinduan telah menggadaikan hati dan jiwanya, raganya telah teracuni madu cinta, sehingga wajahnya yang putih kini memucat pasi dan cahaya matanya-pun perlahan meredup laksana kegelisahan bulan dikala malam serta laksana kesedihan matahari diwaktu siang , sambil bersyair ia menuliskan suara hatinya pada secarik kertas.

“Wahai Pencuri hati, datanglah padaku ! ,

Tidakkah kau dengar rintih kerinduanku dikala malam?

Sampai kapan meski kutanggung derita ini,

Memanggul beban dunia - saat letih memanggil, masih bisa kubesandar,

Namun bila beban itu beban bathiniyah, meski kemana aku menyandar ?”

“Duhai kekasih , merindumu membuatku kehilangan arah, pandanganku menjadi kabur dan pendengaranku menjadi lemah.”….“Apabila engkau menganggap cinta itu pembebas, katakanlah padaku, dimanakah aku bisa dapatkan cinta seperti itu?”

“Kini hatiku tertawan oleh jaring-jaring cinta yang kau tebarkan kedalam hatiku, perlahan dan pasti engkau menghujam hatiku dengan anak-anak panah yang sengaja kau lepaskan padaku- dengan itu semua ; tanpa memberikan obat atas luka-luka ku itu, kemudian engkau menghilangkan diri.”

“Bila air sungai kelak bermuara kelautan, sedang jiwaku hendak kemana ia berlabuh?

Oh, betapa pahitnya derita yang kini kutanggung !, sudikah kiranya engkau memikul beban derita ini bersama ? “

Dan bukanlah sebuah pasangan jiwa, jika sang pemuda tidak merasakan penderitaan yang sama seperti yang dialami oleh belahan hatinya, Ia pun berprilaku sama seperti yang dilakukan sang terkasih.

Sering pula ia menyusuri bebukitan memanggil-manggil nama kekasih hati, atau memetik tumbuhan ataupun mengelus hewan-hewan liar dibelantara kesunyian, sambil membicarakan perihal ratapan dan kesedihan hatinya terhadap sang kekasih. Berbagai kegilaan tersebut seakan mencerminkan -tidak adanya seorang manusiapun yang peduli terhadap permasalahannya .

Dalam pengasingannya itu , kehidupannya menjadi kacau, tak lagi ia memperhatikan diri, tidak pula mengacuhkan berbagai cemoohan yang terlontar kepadanya.. Tiada hari yang terlewati darinya selain lamunan tentang kekasihnya, tidak pula ada waktu yang dihabiskan selain menuliskan syair-syair yang berisi ratapan maupun pujian .

Airmata keputusasaan jatuh berderai dari pipinya seakan-akan hendak berbicara dengan hati lainnya, laksana sebuah genangan air yang menjadi kaca pemantul bagi kebahagian dan juga penderitaan hatinya..

“Duhai cinta”, katanya ….”Dalam ketersendirianku yang mencekam, laksana langit yang tak pernah mengenal bintang –gemintang, aku terkurung sepi dalam kehampaan. Sejak dirimu hadir dalam mimpi-mimpi malamku , jiwaku terguncang dengan hebatnya, seakan akal sehat ku telah hilang akibat memikirkan dirimu. Engkaulah keindahan yang telah membuatku selalu terjaga, sentuhan jemari kerinduanmu yang berapi -telah membangkitkan dan membuat jiwaku terbakar dalam tungku bara api keabadian“.

.“Duhai Tiara!….Demi cintaku padamu aku rela dianggap gila, demi berjumpa denganmu aku rela menyusuri bebukitan, menerjang badai dan menahan petaka.” …”Tak pernah aku merasa letih dalam harap, dan tak pernah aku merasa jemu menggubah syair-syair keriduanku untukmu ”

“ Ketika jaring-jaring cinta menyulam ruang hati, menembus bilik keberadaan,

membuncah kesunyian, menghenyak keheningan, menggetar lautan,

terjaga Sang jiwa dalam titian siang dan malam”

“ Disaat panah-panah cinta datang menyambut,

Aku relakan hati ini berdarah, Ku relakan hati ini terluka,

Aku binasa, Maka kematianku adalah suka-cita, Tangisku adalah mata air dahaga.



Seakan tidak pernah kehabisan akal, sang pecinta selalu saja mendapatkan jalan untuk bisa bersua untuk sang kekasih pujaan hati, meskipun didepannya menghadang berbagai aral serta rintangan , tabir dan penjaga yang bersenjata, serta akal licik untuk memisahkan mereka, pastilah akan menjadi sia-sia belaka. Laksana pasir atau debu yang terbang berserak tertiup angin, semua pembatas-pembatas tersebut menjadi luruh tak berdaya seiring dengan bangkitnya rasa cinta yang hangat dari dalam kalbu kedua pecinta

Bulan begitu cantik dalam naungan bintang-bintang, langit tampak begitu cerah; secerah hati kedua pecinta. Sebuah keindahan malam yang mengilhami Satria untuk menemui Tiara. Sembari melantunkan syair Satria berjalan menyusuri jalan kampung yang berliku menerabas hutan dan mengarungi sungai. Apapun rintangan yang menghadang, dengan sukarela ia taklukkan demi berjumpa dengan kekasih hati.

Setelah sampai didekat alun-alun istana, Satria memperlambat langkahnya terlihat beberapa pengawal sedang berkeliling menjaga tiap sudut bangunan istana. Sambil mengendap-endap, ia menyusup memasuki sebuah taman- yang tepat berada didepan kamar sang Putri. Diatas balkon istana Sang Putri terlihat menunggu dalam kegelisahan, tampak rambut panjangnya terurai diterpai semilir angin dan terlihat pula sepasang matanya yang indah berkaca-kaca dalam keharuan,…

“ Duhai betapa cantiknya ia” , bisik hati kecil Satria. Bulir airmata keharuan tampak menitik dari kelopak mata Sang dewi , seakan hendak berkata agar malam ini menjadi malam yang abadi, sebuah malam pertemuan yang tak berpisah untuk selamanya. Tak rela bila kekasihnya menangis, kemudian Satria bersyair untuk menenteramkan hati sang terkasih :

Duhai bulan dan bintang masih adakah senyum dihatimu?

Adakah gerangan nestapa dihatimu kini?…

“Duhai cinta yang terbakar...Bakarlah gelora hati dalam jiwa hingga berabu”...

“ Menangislah jika harus menangis ....Maka tangismu laksana lautan tinta kasih, yang mengisi mata penanya dengan senandung harapan- akan cinta dan anugerah “...

“Tiap usapan tangismu , baginya laksana tarian hati, tarian pena- yang bergerak dengan sendirinya pada secarik kertas keabadian “ ....

Setelah mendengar kata-kata Satria, sambil memalingkan wajah cantiknya- Sang Putri mengusap bulir-bulir airmatanya yang terjatuh, kemudian dengan suara lirih dan penuh keharuan, ia berkata :

“Kudapati Cinta merupakan yang wujud sekaligus ghaib,

Cinta adalah ramuan kesembuhan dan juga kematian” ...

“Bersama ketulusan hati , ia mengangkat , mengeringkan dan menyembuhkannya ,

atau bahkan melukainya kembali”...

Mendengar Tiara mengucapkan rangkaian syair nan menyentuh itu- Satria tersenyum, sambil memberi setangkai bunga mawar pada Tiara , kemudian Satria berkata :

“ Duhai Tiara !, Lihatlah batu ini dan lumut yang menutupinya, lebih baik bagimu menjadi lumut yang tak memiliki langit tuk berteduh , daripada menjadi batu permata yang sejak dari kelahirannya didekap keperkasaan gunung-gunung” .

“Apalah arti keindahan wujud baginya ?, Dan apalah arti kemilau cantik bagi dirinya- bila ia sendiri tak pernah merasakan sentuhan sinar kasih ataupun belaian lembut angin kehidupan “ . “Duhai kekasih hati, jangan pernah takut melangkah, buanglah keraguan diri ; karena dalam wujud cinta, segala macam bentuk keraguan adalah dosa kasihku “.

“ Lihatlah lumut ini dan belajarlah darinya, tidakkah kau lihat bahwa batu dan lumut itu beda, tapi lihatlah ia dengan setianya mendekap sang batu. “ Bagi dirinya mencinta adalah sebentuk pelayanan, mencinta adalah sebuah kebutuhan, mencinta berarti menghidupkan cita dan harapan” .

“ Demi orang yang dicintainya, ia rela terterpa panas dan hujan. Ia menyakini bahwa suatu waktu, sebongkah batu yang keras sekalipun- akan menjadi lunak karena sihir cinta”. “Apapun yang kau dengar tentang Cinta , apapun yang ingin kau katakan tentang wujudnya, ketahuilah bahwa inti Cinta itu sendiri adalah sebuah rahasia yang tak pernah terungkapkan” .



****

Hartono Beny Hidayat, www.planetmusic.4t.com

Monday, July 22, 2002

Surat-surat cinta tanpa huruf ( Dia )

Bab 1

Hartono Beny Hidayat,

Mutiara langit begitu cerah, bulan tampak begitu utuh dalam balut gelisah heningnya malam, bertabur kerlip sunyi bintang-gemintang, terlihat dikejauhan sebuah bangunan tua yang besar lagi kokoh seperti sebuah kastil, berpekarangan luas; dengan sisi-sisi dinding megahnya tampak berlumut dan berlubang akibat termakan usia.

Walaupun bangunan kokoh itu sepintas terlihat cantik dimata, namun tubuh lusuhnya seakan kurang terkucuri basuhan air kehidupan, serta usapan kasih jemari nan terampil. Itu terlihat dari beberapa daun jendela dan dinding pemantul bayang keberadaannya, yang terlihat kusam; bahkan pada balkon dinding bagian utara ; sebuah sarang hewan penenun dan beberapa ekor hantu berjubah, sedang bergelantungan di sudut atapnya.

Bangunan tua itu bertingkat dua, dipintu masuknya mengapit dua buah patung berbentuk malaikat kecil yang terlihat begitu indah manakala teterpa cahaya bulan. Keindahan mata dan kepak sayap kecilnya, seakan hendak menyapa ramah setiap tamu yang hendak bertandang.

Bila mata memasuki ruang keberadaan itu, tampak langit-langit bangunannya tegak menjulang bak tombak Julius Cesar dengan dinding-dindingnya yang berhias puluhan tongkat pendar cahaya api kristal.

Pada lantai bawah, pojok bagian kiri dari bangunan ini- terdapat ruang perpustakaan, sedang pada bagian tengahnya terdapat ruang perjamuan serta ruangan utama yang dimana sisi bahunya terdapat lukisan-lukisan kuno yang terggantung miring dan agak menghitam. Disepanjang anak panah tangganya, terhampar gulungan permadani merah hati nan indah, berhias mata perunggu dan guci ukir dari cina .

Sarang peraduan tersebut begitu temaram, namun terasa hening dalam hembusan damai. Ukiran jiwa dibeberapa tepian dahan cokelatnya, walau terkelupas rentang waktu namun tetap indah dalam keantikannya.



Ada beberapa ruangan disana; dimana salah satu kamar itu dihuni oleh seorang pemuda yang selalu termenung dan tenggelam dalam gejolak arus samudera pemikirannya.

Bila kita melengok kedalam kamar tersebut ; didapatlah sebuah kotak kayu yang memuat puluhan buku-buku -yang tersusun dengan rapihnya bagai susunan rusuk adam, sedang pada lantainya dipenuhi oleh sobekan serta lembaran kertas, yang berisi ungkapan hati sang penyair.

Bertemankan redup cahaya lilin yang bertempur dengan pekatnya malam –pada sebidang meja; dengan tumpukkan buku ditiap sisinya, terlihat sesosok pemuda sedang merenung dan menuangkan isi hatinya pada secarik kertas …

“Hari kemarin- hingga saat ini aku menulis, aku tak tahu harus kuisi dan hendak kemana surat jiwa ini kukirim. Bukankah bahasa hati tidak memerlukan rangkaian huruf, bukankah lembaran jiwa ini dapat terbaca- walau sekiranya tak ada tulisan diatasnya ?”

“Bagiku Cinta laksana buah hati yang abstrak, Pohon jiwa yang tak henti berbuah, hadirnya laksana Cahaya abadi yang mengikis kegelapan malam. Mengubah dasar-dasar pemikiran ,menanggalkan kesedihan , basahi keringnya dahaga jiwa , menggantinya dengan mata air surga”

“Maukah kau katakan pada Sang jiwa, apa yang telah dilihat oleh mata saat itu ?” “Dilihatnya bidadari memainkan kecapi, denting-denting cinta mengalun merdu dari lentiknya, senandungkan bait-bait kidung semesta dari balik bibir merahnya”.

“Deru nafas kelembutan dari hidungnya bak hembusan abadi yang memancar dari inti jiwa, kekuatan yang membakar diri , melebur dalam dekapan pusara nan abadi, basahi akar gersang Jiwa-jiwa pencinta, hingga kesejatian diri tercermin didasar hati”

“Cinta datang bersenandung dalam tangisan suka- cita , Ia datang untuk mensucikan jiwa, Ia datang atas nama- kasih semesta “,

“Manusia terjaga untuk menyambut atau memalingkan panggilan sucinya, Selalu terjaga Ia dalam pembaringannya yang getir , tertawa dan menangis ia dalam keheningan malam yang bisu”...

“Begitulah cinta yang pertama kali ku rasakan, ku dibuat buta olehnya, kudibuat hidup dan terbakar oleh panas teriknya ,dialah racun yang melumpuhkan dan aku tersihir oleh keajaibannya !”

Dalam hati seorang Pecinta, suara hati dan pesona jiwanya berawal dan berangkat dari kepedihan hatinya, dan dari kepedihannya itu; ia membalutnya dengan cinta, maka tersingkaplah selubung kegetiran jiwa lalu menggantinya dengan percikan airmata bahagia.

Dalam kesendirianku itu kudapati Cinta berbicara dengan hati lainnya dengan bahasa yang berbeda, begitu besar makna keagungan cinta seakan tak ada ungkapan yang pasti didalam melukis hakikatnya.

Saat cinta hadir didalam sanubari, ia akan berputar laksana sebuah roda, cintalah yang menghadirkan setangkup bahagia dan juga deraian airmata. Ia akan terus berputar mengelilingi ruang-ruang hati seakan tak memiliki awal maupun akhir didalam sebuah perjalannya.

Cinta sejati adalah cinta yang membakar keegoan diri, laksana sebuah cawan perak yang patuh walau tertempa sebuah besi panas, pesona keindahannya-pun mampu melumerkan segala macam bentuk rantai besi yang membelenggu diri .

Hati sang pencinta akan terus berbicara dengan hati pecinta lainnya, sekalipun mata lahiriah tertutup, namun jiwa menyakini bahwasanya tak akan ada yang sanggup menutup mata hati, kecuali keagungan cinta itu sendiri.

Bumi sang terkasih , tempat dimana permadani kesejatian menghampar- telah mengucap janji setia pada Sang penyair:



Wahai penyair !,

Kurelakan jiwa ini , menahan pedihnya goresan tinta yang kau toreh diwajahku,

Kubiarkan pula api, membakari seluruh ruang jiwaku,

karena Sang terkasihlah aku memiliki kekuatan, dan karena ia- pulalah aku ada.

Melihat bumi kekasih tercintanya menangis, tampak bulir airmata- menetes dari pipi sang penyair, maka keluarlah syair pengharapan dari bibirnya yang kering :

“Duhai bumi kekasihku !,

ada ataupun tak ada, dirimu disisi -bagiku adalah sama!

Disaat dirimu hadir, denting kecapi mengalun dihatiku.

Engkau laksana cahaya bintang yang menghiasi malam sepiku,

Takkala senyummu hadir, Sejuk terasa dihati, walau kegetiran terasa dalam misteri...

Dibalik awan yang mendung- kulihat matamu yang indah, memancar penuh kedamaian, dikedalaman jiwaku.

Ketika rintik hujan membasahi bumi, rintiknya basahi bunga-bungaku yang bersemi didasar hati.”

***

Begitu banyak malam yang telah dilewati dan telah banyak pula racun kegelisahan telah direguknya, namun Sang pemuda sama sekali tak mengetahui hakikat dibalik kejadian itu semua, namun yang kini ia rasakan bahwa tanggannya telah terbelenggu , matanya telah buta dan bibirnya terkunci. Ia telah hanyut dalam palung samudera perenungannya, darahnyapun telah tercemar oleh racun dan juga madu pemikirannya sendiri.



Sejak saat itu ia lebih menyukai ketersendirian, dimanapun ada riuh keramaian, jiwanya tetap saja merasa sunyi. Baginya bergantinya siang kemalam ataupun sebaliknya adalah sama.

“ Ketika aku mendayung bahtera jiwaku menuju kepulau ketidaktahuan , aku kembali berlabuh kedermaga jiwa dengan membawa setangkup pasir kekecewaan dan tanpa sedikitpun memahami penyebab kekecewaanku itu.

‘Kudapati bahteraku mengapung sekaligus yang tenggelam, ketika dayungku mengayun kokoh memecah ombak bagai karang yang membelah lautan , bahteraku berlayar laksana jasad busuk yang mengapung diatas air’.

‘Disaat ku menjaring ikan-ikan tersebut, ketidakberdayaannya ketidakberdayaanku juga, kurasakan keperkasaan jaring dan ketajaman mata kail yang kupergunakan, telah membelenggu dan mengoyak-ngoyak bathinku sendiri ”

“ Dalam perjalanan tanpa akhir, ketika segala resah merasuki dan menyelimuti diriku, aku hanya bisa menahan nafas , jiwaku merintih dan terkapar, menggigil dalam kebisuan malam. Aku hanya terdiam, aku mengharap kehadirannya merupakan suatu perjalanan “terakhir” yang singgah didermaga hatiku.

“Aku melihat ‘bahtera tua’ itu telah letih, seolah semua samudera ia telah dilintasi, seolah segala rute perjalanannya berlalu tanpa irama, melintas dan hanya melintas, tanpa ada nahkoda ataupun ataupun derai tawa bocah yang mengiringi perjalanannya”.

“Entah kenapa bahtera itu kini hanya ingin dilihat, ia mengharap suatu saat kelak- masuk museum, Walaupun sekiranya terkurung dalam ruang yang terbatas namun ia memiliki teman, bersama bahtera lainnya yang lebih dulu ada- mereka saling berbagi tempat dan cerita. “

Ketika aku sedang berada disebuah dermaga, aku bercerita dengan bahtera lainnya,

“Aku lelah mengangkut segala tentang ‘ada’ ataupun ‘tak ada’ dari seorang manusia”.

“Aku mengharap didepanku merupakan sebuah pelabuhan terakhir tempat dimana ku dapat beristirahat dan singgah dalam waktu lama”.

“Dalam dekapan ketersendirianku itu , Cinta hadir laksana tarikan dan hembusan nafas- kidung semesta. Bagiku Cinta adalah sebuah pengorbanan , tapi bukan untuk dikorbankan.”

“Dahaganya adalah dahaga cinta, airmatanya -mata air cinta , walaupun cinta itu harus tertatih ataupun berkalang tanah serta binasa, maka cinta sejatilah yang bertahta”.

“Cinta adalah ramuan kesembuhan, Cinta adalah senandung hidup, disaat benih-benih cinta tumbuh subur diladang-ladang kasih Ilahi, ditanganNya- lah kehidupan dan kematiannya”

“Ada sebuah ungkapan menyatakan “Cinta datang dari mata turun kehati“, namun diri menyakini bahwa pandangan bukanlah satu-satunya jalan yang dapat menghadirkan indahnya getaran dawai kecapi cinta - yang bersenandung dalam bilik hati.”

“Bagiku Cintalah satu-satunya -cahaya pemilik jiwa, Sang Jiwa Pencinta akan terus hidup dalam keabadian, Pemilik abadi dari berbagai ramuan dan mantra ajaib, yang dapat menyembuhkan segala duka lara”.

“Begitulah saat itu, aku sedang mabuk anggur masa muda !…..didalam kebingungan jiwa aku ciptakan kekasih khayalan bagi pasangan jiwaku , aku bercakap-cakap dengannya dikeremangan malam, dan aku hendak mengawali kisah ini dengan sebuah syair :



Wahai Cinta,

Engkaulah sumber inspirasi , yang membuat jiwa bak seorang pelukis,

Seorang pelukis yang tak memiliki gambaran tentang konsep akhir dari sebuah lukisannya,

Ataupun penjabaran universal dari lukisan yang ia buat,

Namun sang pelukis memahaminya,

sebagai karya lukis yang mengandung nilai ekstetik,

kehalusan sapuan kuas serta kombinasi ragam warnanya ,

menciptakan sebuah keutuhan harmoni .

Dengan berbingkai akal serta sinergi kanvas kemanusiaan .

Sebuah ide kecil tercuat,

perihal “kanvas” dan sesuatu yang berada diatasnya,

Inilah peradaban besar yang dicitakannya,

Inilah mimpi-mimpinya !

***

“ Ketika aku mengagumi cinta , aku hanya dapat memujinya, tidak pernah hati ini berhasrat ataupun bermimpi untuk memilikinya , karena aku tetaplah jiwa yang kerdil.

‘Telah bahagia kurasakan dari kegelapanku yang getir, bila jiwaku mampu mengukir dan menghampiri keindahan , yang hakikatnya keindahan-keindahan tersebut tidaklah pernah kumiliki’...

‘Aku hanya sekedar memastikan pada jiwaku, bahwa keindahan-keindahan itu tetap ada- tetap hidup serta bersemayam dalam kesunyian jiwaku, sekiranya jiwa itu harus merangkak dalam selubung kabut kegetiran ataupun berada dalam kematian panjangnya’.

‘Duhai kekasih…dari kegelapanku yang tak bertepi dan berdasar ini kasihani dan maafkanlah jiwaku, maka ijinkanlah aku memasuki kelapangan dan kebijaksanaanmu, ijinkanlah aku meneguk air- dari sumur jiwamu, engkaulah terkasih!… pemilik satu-satunya tetes air- bagi dahaga jiwa’

‘Disaat dinding jiwa ini tak memiliki kekuatan atau cahaya yang menyelimutinya , hidupku seakan-akan berada dalam kotak yang sempit, tak pernah lagi kurasakan indahnya kesegaran pagi ataupun heningnya keindahan malam’ ...

‘Bagiku bergantinya hari dari terang- menuju kegelapan adalah sama , karena hatiku telah terkunci , mataku telah buta, bibirku membisu dan ragakupun telah lumpuh oleh belenggu-belenggu yang memeluk-ku erat’....

‘Dalam sebuah rumah pengharapan -pelita bagi pembaringanku yang getir ,jiwaku terkapar sekarat, dengan sisa nafas kehidupan- kugerakkan tanganku yang lemah kearah langit, seakan-akan ada sebuah cawan air harapan serta sepasang sayap cinta yang mengangkat dan menyelamatkanku dari kegelapan ini’....
Inspirasi ku
Dikeheningan malam

disaat ku terjaga dari tidurku ,

Dirimu hadir diantara bintang-bintang yang ingin kutemui

Kunyalakan lilin, di istana gelap hatiku

Lilin api yang berpendar cahaya kasih,

Ibunda cahaya dari segala cahaya – yang menceritakan segala tentangmu dan tentangku.

Kuambil secarik kertas

Kutulis, lalu kucurahkan semua yang ada dihati.

Engkaulah yang menuntun penaku agar berbicara dengan bahasa hati

Duhai kekasih,

Kucipta puisi terindah untukmu,

Walau dirimu belum hadir sepenuhnya , namun kuyakin -hatiku dapat merasakannya ,

Getaran ghaib itu, dapatkah hati merasakannya ?!

Puisi, petikan gitar dan syair lagu..semuanya, yah semuanya yang ku-punya...

Aku mendedikasikannya untukmu ,

Karena Kaulah semua ini tercipta.

‘Dari ketersendirianku yang mencekam, dari malam-malam yang melintas tanpa bintang aku menggubah kembali sebuah syair kerinduanku untukmu :

Cinta yang terlahir bersama rahasia malam,

Menghadirkan ketulusan dan keabadian cinta yang dalam,

Laksana dalamnya samudera,

setinggi bintang dan seluas angkasa,

Cinta yang kubawa adalah cinta yang kuperas dari serat jantung dan tinta airmata ,

Menghidupi hati nan kering lalu menjelma menjadi sebuah mata air -penghapus kerinduan.

Keindahan yang dapat membuat seorang bahagia walau ia berada dalam selubung ketiadaan;

Membuat jiwa merasa teduh dalam damai, sekiranya badai dalam jiwa sedang berkecamuk.

Jemari kelembutan angin malam telah menyapa mata sang pemuda , kepenatan telah memanggilnya untuk beristirahat, diatas kertas-kertas keabadian itulah, ia menyandarkan kepalanya; dibahu meja kebersahajaannya- ia merebahkan tubuh…

***

Begitulah sekilas kegiatan keseharian sang pencinta, seorang penyair lokal yang termasyur dari suku Andasia , ibundanya bernama Sekar dan ayahandanya bernama Syahbana, seorang pedagang yang berasal dari timur, ia banyak menghabiskan waktunya dengan berdagang, sehingga keluarga lebih banyak ditinggalkannya - hingga hitungan bulan bahkan tahun.

Pemuda itu bernama Satria dilahirkan pada masa Raja Nalendra. Ia berkembang tidak sebagaimana lazimnya anak-anak yang lain .Kehidupan masa kecilnya begitu unik. Disaat anak-anak sebayanya senang bermain-main dengan bonekanya , maka ia lebih senang mengamati hewan dan tumbuhan yang ada ditaman. Sang ibu kerap dibuat bingung oleh ulahnya. Maka perempuan itu mendatangi tetua suku, agar anaknya dilindungi oleh ajimat yang dapat menjaganya dari berbagai bala.

Setelah berumur sembilan tahun Satria ditinggal pergi ibunya untuk selama-lamanya, dan ia diasuh oleh kenalan ayahnya. Dalam ketersendirian dan keterasingan tersebut ia hanya mencintai dua hal : yaitu menulis syair dan memadu kasih dengan kekasih khayalnya, tak pelak lagi bila tak ada waktu dan hari melintas dalam benaknya selain menuliskan bait-bait syair, yang kesemua gubahannya itu dinisbatkan kepada “Seseorang” yang selalu hadir dalam tiap perenungannya diwaktu siang serta membuatnya selalu terjaga dikala malam.

Kepada siapakah gerangan syair-syair itu ditujukan?!…Duhai betapa beruntungnya gadis yang menjadi sumber inspirasinya itu,….namun tiada seorangpun yang mengetahuinya, begitu juga dengan ayahandanya, begitu pula para kerabat dekatnya.

Mereka para handai taulan- hanya sekedar mengapresiasikannya saja, dan memaklumi berbagai ulah gilanya, sebagai bentuk perilaku seseorang yang sedang melewati masa akil baliq.

Bahkan tidak sedikit diantara tetangga ; ataupun para kerabat yang telah menuduhnya sebagai seorang yang telah lupa ingatan akibat sihir cinta.

Maka dari itu -ia pun bersyair, kepada mereka-mereka yang telah menganggap dirinya telah lupa ingatan, seolah duduk pekara kesemuanya itu , bersumber dari penderitaan cintanya yang tak berbalas :



Bahwa hati mempunyai bahasa yang lain ,

jiwa yang tak paham akan menganggapnya gila,

jiwa yang memiliki batas pengelihatan akan sia-sia.

Dilihatnya mata air, adakah jiwa dapat melihat nestapa air - ketika menembus kegelapan?! …

Dan bukanlah kehidupan seorang penyair bila ia tidak berdiri didua sisi ketajaman mata pedang. Karena demikian besar pengaruh kewibawaan ayahandanya sajalah, yang membuat dirinya terpelihara dari fitnah serta gunjingan masyarakat sekitarnya.

Dalam jalan kehidupan , bukan duri saja yang melintang diatas permukaannya, melainkan adapula bunga-bunga yang tumbuh subur diatas tanahnya, dan tidak sedikit pula yang memuji ,menghapal serta menulis berbagai riwayat- ratusan atau bahkan ribuan syair-syairnya , sebagai suatu bentuk cinta dan penghormatan baginya .

Kepada mereka-mereka yang memujinya secara berlebihan ia bersyair :

Lebih baik kalian melempariku duri ,

daripada kata-kata madu - yang kelak menikam laksana pedang yang tajam

Dan aku bukanlah bintang yang menerangi gelap malam bukan pula daun kering yang berserak tertiup angin .

Aku adalah seorang pengembara yang sedang menyusuri dan mencari pelangi dibalik kabut hitam. Yang hendak kujumpai diujung harap adalah lentera jiwa, Obor kehidupan yang menerangi ditiap langkah

‘Aku berlayar dan aku pergi , mengarungi dan melintasi luasnya samudera kehidupan- bersama angin kehidupan aku berkelana ,

tetapi bukan berarti kepergianku tanpa arah tujuan’ .



Hartono Beny Hidayat, www.planetmusic.4t.com